5 Tips Memilih Dosen Pembimbing untuk Skripsi

Akan memilih dosen pembimbing untuk skripsi? Simak 5 tips ini untuk mempertimbangkan dosen seperti apa yang cocok menjadi pembimbingmu!
Share this post!

Dosen pembimbing merupakan salah satu pihak eksternal yang akan sangat mempengaruhi kelancaran skripsimu. Selain membimbing, dosen pembimbing juga nantinya akan memberikan masukan, kritik, dan saran untuk membantu mahasiswa mengembangkan ide dan menyelesaikan penelitiannya.

Beliau juga bertanggung jawab untuk menilai kualitas tugas akhir mahasiswa dan memberikan rekomendasi untuk kelulusan mahasiswa bimbingannya.

Berikut adalah beberapa tips untuk memilih dosen pembimbing skripsi berdasarkan pengalaman saya sebagai mahasiswa tingkat akhir.

Pilih Dosen yang Memiliki Minat yang Sama dengan Topik Skripsi

Setiap dosen yang ada di suatu prodi, meskipun mereka mengajar mata kuliah yang sama, mereka tetap memiliki fokus penelitian yang berbeda-beda.

Dengan memilih dosen yang memiliki minat yang sama dengan topik skripsimu, nantinya akan membuat bimbingan semakin efektif dan lebih fokus pada topik yang temen-temen pilih.

Dosen dengan minat yang sama artinya beliau sudah “ahli” atau menguasai topik tersebut. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi temen-temen untuk berkonsultasi jika ada kesulitan mengenai topik yang dipilih.

Lalu bagaimana cara tahu minat dosen pembimbing saya?

Di sebagian kampus, terkadang ada sosialisasi terlebih dahulu (biasanya di awal tahun ketiga) terhadap pengenalan fokus penelitian para dosen.

Jika memang tidak ada, maka temen-temen bisa cari minat dosen dari “Google Scholar”nya. Temen-temen bisa lihat kira-kira dosen tersebut fokus penelitiannya ada di topik apa saja melalui paper atau penelitian-penelitian yang sudah beliau publish.

Baca Juga  5 Website yang Bermanfaat untuk Kuliah - #MabaHarusTau

Pilih Dosen yang Memiliki Waktu yang Cukup dan Mudah Dihubungi

Waktu yang cukup dan dosen yang mudah dihubungi sangat diperlukan mahasiswa untuk melakukan bimbingan dan menyelesaikan skripsinya. Memilih dosen pembimbing yang mudah dihubungi dan responsif dalam memberikan feedback akan membantu temen-temen dalam menyelesaikan skripsi dengan lebih efektif dan efisien. Dalam tips ini, temen-temen perlu tahu posisi dosen di dalam kampus.

Apakah beliau memegang jabatan penting, atau tidak.

Dosen yang memiliki jabatan di prodi, fakultas, ataupun kampus cenderung lebih sibuk dan sulit dihubungi daripada dosen lainnya. Karena beliau-beliau ini harus membagi waktunya untuk mahasiswa bimbingannya, mengajar, dan mengerjakan tugas dari jabatan yang sedang diembannya.

Jika temen-temen pengen skripsinya cepat selesai, maka saya sangat tidak merekomendasikan memilih tipe dosen ini. Lebih baik memilih dosen yang biasa-biasa saja, hihi.


Baca Juga: Study Life Balance sebagai Mahasiswa


Pilih Dosen Pembimbing yang Berpengalaman

Dosen yang memiliki pengalaman dalam bidang yang sama dengan topik skripsimu akan memberikan bimbingan yang lebih berkualitas dan mampu memberikan wawasan yang lebih luas tentang topik tersebut.

Jika teman-teman akan membuat paper atau artikel jurnal bersama dosen pembimbing, maka memilih dosen yang berpengalaman adalah suatu keharusan. Beliau yang berpengalaman nantinya sudah mengetahui jurnal-jurnal apa saja yang bisa dipilih dan akan bisa mengarahkan temen-temen untuk membuat artikel jurnal yang baik.

Pilih Dosen dengan Kuota Bimbingan yang Tidak Terlalu Banyak

Di beberapa kampus, dosen memiliki kuota bimbingan yang berbeda-beda. Kuota bimbingan dosen adalah kapasitas atau jumlah maksimum mahasiswa yang dibimbingnya. Ada dosen yang memiliki kuota bimbingan sampai lebih dari belasan orang dan ada juga yang bahkan hanya kurang dari 10 orang.

Baca Juga  Pengalaman Seleksi LO PKKMB Telkom University 2021

Dosen dengan kuota bimbingan yang sedikit akan berpengaruh pada fokus penyelesaian mahasiswa bimbingannya. Mereka akan melakukan bimbingan yang lebih intensif dan lebih terarah kepada semua mahasiswa bimbingannya.

Di sisi lain, dosen dengan kuota bimbingan yang banyak biasanya akan melakukan bimbingan yang bersifat instruksi umum dan kurang personal terhadap mahasiswa bimbingannya.

Memilih dosen dengan kuota bimbingan yang sedikit akan cukup menantang karena akan ada banyak mahasiswa yang memperebutkan kuota bimbingannya. Namun, menurut saya, worth it kok. Karena dosen tersebut akan lebih ingat mengenai progress skripsi dari setiap mahasiswa bimbingannya.


Baca Juga: 5 Tips agar Kerja Kelompok Efektif!


Pilih Dosen yang Sudah Mengenalmu

Jika kriteria dosen dalam beberapa tips di atas sudah dipenuhi oleh dosen yang memang mengenalmu, maka pilihlah dosen tersebut. Dosen yang sudah mengenal mahasiswanya dengan baik biasanya akan memberikan dukungan yang positif dan memotivasi temen-temen dalam menyelesaikan skripsi. Biasanya mereka sudah tahu bagaimana potensi dari mahasiswanya dan tidak akan sungkan dalam memberikan arahan dalam bimbingan.

Terkadang hal ini juga mempengaruhi perlakuan dosen terhadap temen-temen pada saat bimbingan. Tidak jarang kok dosen yang punya perlakuan lebih pada mahasiswa tertentu (meskipun ini kurang baik, tapi fakta di lapangan banyak kok wkwkwk).

Teruntuk temen-temen yang mau memulai skripsi, semangat ya! Yuk ini fase terakhir yang harus kita jalanin, jadi keluarkan effort terbesarmu supaya cepat selesai!. Jangan lupa istirahat yang cukup juga ya, biar gak stres dengan skripsimu. Semangat!

Nah, itu dia beberapa tips yang akan membantu temen-temen dalam memilih dosen pembimbing untuk skripsi. Kalau temen-temen ada pertanyaan, boleh banget kok ditanyain di kolom komentar. Nanti insya Allah akan saya jawab sesegera mungkin.

Anyway, terima kasih sudah membaca sampai akhir, kalau temen-temen mau bertegur sapa, boleh banget mampir di ig @adelahasna yaa.

See you in my next post, Bubye!

Share this post!

2 Comments

  1. Kita perlu akomodatif buat diri untuk menentukan pembimbing skripsi yang tepat. Komunikasi pun diperlukan dengan dewan skripsi supaya prosesnya lancar.

    • Maaf bgt kak, dewan skripsi tuh apa ya? mungkin boleh dijelasin sedikit kah? Soalnya saya pribadi baru dengar dan istilahnya tidak familiar di kampus saya hihihi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *