Personal Truth vs Objective Truth: Pilih jurusan Kuliah!

Hai!

Mau cerita sedikit nih, kebetulan aku terinspirasi dari suatu topik bahasan dari buku “You Do You” karya kak Fellexandro Ruby, tapi kali ini mau bahas dari perspektif aku sendiri ya..

Belajar Ikigai Lewat Buku You Do You Karya Fellexandro Ruby
Ini bukunya, jangan lupa beli biar gak penasaran wkwkwk

Di bukunya halaman 11, Kak Ruby cerita kalau dalam hidup, ada 3 macam kebenaran, ada personal truth, political truth, dan objective truth (dipelajari dari Neil deGrasse Tyson). Singkatnya, personal truth adalah kebenaran yang sangat dipengaruhi oleh personal bias masing-masing. Political truth adalah sesuatu yang kurang akurat, tapi diterima oleh publik sebagai kebenaran karena pengulangan yang sering. Yang terakhir, objective truth adalah kebenaran yang dapat dibuktikan secara ilmiah, bisa diuji berkali-kali dan memberikan hasil yang sama, atau bisa kita bilang sebagai “fakta”.

Di tulisan ini, aku mau ngebahas tentang personal truth “versus” objective truth yang biasanya terjadi berulang kali ketika membahas mengenai jurusan kuliah seseorang.

Banyak orang bilang kalau pilihan jurusan itu harus ikutin apa kata hati, dan jangan karena dipaksa oleh orang tua. Nah, sesuai pengalamanku dua tahun lalu, sebenernya perdebatan ini bisa dimenangkan oleh siapa pihak yang punya objective truth yang dominan daripada lawan bicaranya. Bisa aja kamu sebagai calon mahasiswa, ataupun orang-orang disekitarmu (misalnya temen, saudara, atau orang tuamu sendiri).

Source: istockphoto

Kita yang baru lulus SMA kadang belum sepenuhnya tau apa yang kita pengen kedepannya termasuk jurusan perkuliahan yang akan kita ambil nantinya, tapi ada juga yang udah punya keinginan ABCD yang direncanain dari jauh-jauh hari sebelum lulus. Disinilah peran orang tua, membimbing, ngasih kita arahan dan opsi untuk kita milih jurusan perkuliahan.

Pas diinget-inget, kadang suka ketawa sendiri ngebayangin aku yang dulu maksa banget milih kuliah jurusan arsitektur padahal cuman modal suka liat gambar-gambar bangunan tapi gak punya skill gambar sama sekali (nah ini yang aku maksud personal bias). Sebenernya aku pernah keterima jurusan desain (DKV), tapi ortu masih gak yakin sama pilihanku dan suruh untuk tes lagi, dan berujung keterima di jurusan manajamen bisnis.

Apa yang dibahas oleh kak Ruby di bukunya beneran kejadian di kehidupanku. Aku dengan personal truth yang pengen banget kuliah arsitektur kalah dengan objective truth yang dimiliki ortu saat perdebatan jurusan kuliah. Aku yang “kekeuh” kalau di sunda mah, atau bisa dibilang ngotot untuk pilih jurusan arsitektur, tiba-tiba terpatahkan dengan statement-statement ortu yang nyaranin aku untuk milih jurusan bisnis. Dulu di pikiranku bisnis itu bisa dipelajarin gak harus di kuliah, tapi nyatanya banyak banget ilmu baru yang aku dapetin di kuliah sekarang. Dulu statement itu awalnya terngiang-ngiang di kepala pas mau pilih jurusan, makanya setiap debat pilihan jurusan kadang pilihan ortu masih mantul dan merasa kurang ‘srek’. Tapi sekarang udah sadar sih, kalau statement belajar gak harus di kuliah sebenernya gak sepenuhnya salah, tapi kalau mikir kuliah bisnis gak penting itu salah besar. Hehe..

Source: istockphoto

Ortu kadang emang gak ngelarang kamu secara terang-terangan atas pilihanmu sendiri, biasanya mereka lebih ngasih alasan kenapa suatu jurusan lebih “menjanjikan” dibandingkan jurusan yang kamu pilih. Ortu kita, yang besarin kita dari bayi sampai lulus SMA tuh tau banget loh kebutuhan dan skill apa aja yang dimilikin anaknya, jadi mereka sebenernya menyelamatkan kamu dari kemungkinan struggle yang gak bisa kamu hadapin kedepannya. Memang sih struggle perkuliahan di tiap jurusan berbeda-beda, tapi dengan apa yang kamu punya sekarang kayaknya mereka udah “khatam” banget sama kondisi kamu.

Terus, kalau ditanya sekarang nyesel apa enggak kuliah di manajemen bisnis? jawabannya enggak sama sekali, karena Alhamdulillah selama kuliah selalu ada hal baru yang bisa diulik dari ranah desain. Misalnya, kemaren-kemaren baru banget nyoba-nyoba bikin UI (User Interface) suatu aplikasi karena tuntutan tugas dan berujung ngulik sendiri sampai mulai paham alur-alur desainnya. Sebenernya hal-hal yang kamu suka masih bisa kok kamu lakuin di luar perkuliahan, bisa aja kamu belajar dan ngulik sendiri tanpa harus membatasi diri karena jurusan kuliah.

See? nggak semua apa yang kamu suka harus sejalan dengan jurusan kuliahmu, malah apa yang kamu suka bisa jadi bahan yang seru untuk diulik pas lagi penat-penatnya kuliah. Sekarang aku malah bersyukur banget, karena ngeliat struggle temen-temen arsi yang nugas sampe pagi dan ngerasa kayaknya gak cocok dengan kebiasaan ku yang lemah banget kalau gadang dan lebih suka ngetik.

Saran aku sih bagi kamu yang masih bingung jurusan kuliah, coba deh seimbangin antara personal truth dan objective truth yang kamu dapetin ketika milih suatu jurusan, jadi pas bahas topik ini dengan ortu atau orang di sekitarmu, kamu ounya wawasan lebih luas dan jadi lebih siap dan yakin atas pilihanmu sendiri. Gak ada salahnya kok pikirin apa yang ortumu mau, gak ada salahnya juga kalau kamu punya pilihanmu sendiri. Pesan aku, please be wise, ketika kamu milih jurusan kuliah nanti atau saat ini, karena bukan hanya materi aja yang kekuras, tapi akan banyak energi yang terbuang kalau kamu terjebak dalam jurusan yang “tidak cocok” denganmu.

Yak! segitu dulu ceritanya, semua yang udah aku ceritain berdasarkan pengalaman pribadi ya. Feel free untuk kamu yang mau bahas topik ini berdasarkan pengalamanmu sendiri di kolom komentar. Anyway, makasih banyak udah baca sampai akhir, hope you like it!

Sampai jumpa di cerita selajutnya, Bubye!

Share your love

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *