Pengalaman Kerja di Startup sebagai Gen Z

Katanya kerja di startup serba harus cepat? Emang iya? Ini Pengalamanku kerja di startup sebagai Gen Z selama kurang lebih dua tahun lamanya.

Share this post!

Sebagai Gen Z, sebenarnya kita punya banyak opsi untuk memilih tempat kerja yang kita mau. Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang cenderung memilih tempat-tempat kerja yang sudah terbukti “aman” dan “terjamin”. 

Ya.. bisa dibilang biasanya kita lebih eksploratif dan yolo aja sih. Atau lebih ke ngeyel kali ya? wkwkwk😭

Nggak hanya terpaku dengan PNS dan BUMN, Gen Z sekarang ini bisa dibilang udah tersebar luas di tempat kerja yang beraneka ragam. Ada di agency, startup, BUMC, dan bahkan banyak juga yang milih gak kerja kantoran kayak jadi content creator atau affiliator.

Tapi, di artikel ini aku mau bahas pengalamanku kerja di startup selama kurang lebih 2 tahun. Gimana rasanya? yuk, lanjut baca artikelnya ya..🤭

Sudah Berapa lama kerja di Startup?

Alhamdulillaah aku terhitung kurang lebih kerja di Startup sudah mendekati 2 tahun. Waktu yang terhitung masih sebentar memang, tapi dengan durasi itu, udah ada banyak banget pelajaran dan benefit yang aku dapatkan dari pengalaman kerja disana.

Dua hal yang paling aku syukuri dari bekerja di sebuah startup adalah kebebasan kita dalam berpakaian dan fleksibilitas dalam lokasi kerja.

Kebebasan Berpakaian di Startup

Kita bisa banget lho pakai kaos pas kerja, meskipun hal ini hanya dalam kondisi-kondisi tertentu ya, bukan pada saat acara resmi. Tentu saja tetap harus rapi dan sopan.

Kebebasan berpakaian ini sangat menjadi priviledge ketika aku mulai memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan abaya dan khimar. Mereka memperbolehkan tanpa dinilai berlebihan atau men-judge yang aneh-aneh.

Hal-hal seperti ini kalau aku lihat dari pengalaman-pengalaman orang lain belum tentu bisa didapatkan di semua kantor, lho. Jadi, Alhamdulillah MasyaAllah TabarakAllah terima kasih kantorku🤣🫶🏻

Fleksibilitas WFO dan WFH

Fleksibilitas bekerja secara hybrid juga ada banget di startup. Kebanyakan dari startup yang aku tau mereka punya sistem kerja yang hybrid. Ada hari yang mengharuskan untuk WFO dan sisanya bisa WFH. Kebijakan ini biasanya tergantung dengan peraturan dari masing-masing perusahaan.

Kalau dari kantorku, dalam seminggu kita cuman diwajibkan ke kantor hanya satu hari. Dan hari WFO nya biasanya sudah ditentukan, antara senin atau Jumat. Sisanya? ya bener-bener bebas. Mau WFC, WFH, atau dimanapun itu yang penting kerja😝

Sebagai Gen Z, ini approve banget sih. Bisa kerja bareng temen di kafe bahkan sama yang beda kantor, atau bisa sambil ngerjain kerjaan rumah juga.

Gimana budaya kerja di Startup?

Startup selalu di cap sebagai industri yang punya pace tinggi atau fast-paced. Semua orang di dalamnya harus punya skill adaptasi yang cepat, cara kerja yang cepat, bahkan bisa cepet juga nyelesaiin drama kantornya ehehe (becanda)🤣✌🏻

Itu kan kata orang-orang, apakah realitanya begitu? ya.. bisa dibilang fakta sih..

Beda halnya dengan kantor-kantor yang punya birokrasi tinggi yang cenderung lebih lambat dalam pengambilan keputusan dalam pekerjaan, kita dituntut untuk bisa nyesuaiin cara kerja dengan sangat efektif dan efisien.

Bahkan di beberapa momen banyak orang yang harus multitask di berbagai program yang sedang mereka jalankan. Udah mah workload-nya tinggi, tapi kita juga harus bisa beresin kerjaan itu secepat kilat.

Cerita ini bukan bermaksud menakut-nakuti ya pemirsa, si Gen Z satu ini buktinya survive-survive aja selama ini, meskipun agak sedikit ngos-ngosan😬

Pengalaman Kerja di Startup sebagai Gen Z

Pada fase awal, kerja di startup memang akan menguji mental dan energi karena dituntut untuk serba cepat. Gak jarang juga orang-orang menjadikan startup sebagai batu loncatan untuk bisa kerja di perusahaan yang lebih tinggi levelnya. Jadi, banyak dari mereka juga yang tidak bertahan lama.

Dengan banyaknya pressure pekerjaan, menurutku hal ini sepadan dengan segala benefit yang diberikan. Aku selalu beranggapan kalau hal seperti ini memang akan selalu ada di semua pekerjaan. Bedanya, kita perlu memilih pressure seperti apa yang bisa kita handle.

Manfaat yang sangat amat berasa bagiku saat terus-terusan menghadapi semua pressure ini adalah semua skill yang kita punya jadi terasah dengan cepat. Hari ini tiba-tiba mahir satu rumus excel, besok tiba-tiba jago ngerekap keuangan, besoknya lagi tiba-tiba jago hal baru lainnya.

Yaa.. kurang lebih keseharian kita pasti belajar hal baru yang bisa menunjang keefektifan kerja kita sendiri, tentunya dengan style kerja nya masing-masing. 😎

Minusnya, menuruku hampir semua startup gak punya jenjang karir yang “terjamin” seperti PNS ataupun BUMN. Jangankan mikir jenjang karir deh, startup kita bertahan sampai puluhan tahun aja udah bersyukur banget 🥺. Karena bagi karyawan startup, lay off karyawan adalah sebuah mimpi terburuk mereka. 

Pasti banyak dari teman-teman pembaca yang juga tahu itu. Banyak dari startup di Indonesia yang mulai collapse, jadi kita-kita pasti selalu berdoa supaya kantor aman dan lancar jaya kedepannya hehehe

Itu dia kurang lebih cerita pengalamanku selama kerja di startup sebagai Gen Z. Gimana? masih tertarik untuk join di sebuah startup? Cobain deh, aku bisa menjamin setelah dari startup, kamu akan punya cara kerja yang lebih efektif.

Anyway, terima kasih sudah membaca sampai akhir. Semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kamu atau para Gen Z yang mau (coba) kerja di startup, hehe😁

Temen-temen boleh banget kontak aku melalui DM @adelahasna untuk bertanya apapun atau mengajak kerjasama. Dengan senang hati akan aku balas secepatnya~

See you on my next post, Bubye!

Share this post!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *